Rabu, 04 April 2018

WASPADA TERHADAP HAMA PENGGEREK BATANG PADI

Penggerek Batang Padi (PBP) adalah salah satu OPT utama pada pertanaman padi.
Saat ini terdapat 4 jenis penggerek yang sering menyerang tanaman padi yaitu : penggerek batang padi kuning (PBPK/scirpophaga insertulans), penggerek batang padi putih ( PBPP/s.innotata), penggerek batang padi bergaris (PBPB/chillo suppressalis)dan penggerek batang padi merah jambu (PBPM/sesamia inferens)
Semua jemis penggerek ini dapat menyebabkan kerugian besar pada petani.

SERANGAN.
1. Serangan pada fase vegetatif menimbulkan gejala sundep.
2. Serangan pada tanaman fase generatif/ anakan maksimum menimbulkan gejala beluk.

FAKTOR PEMICU.
1. Pemupukan Nitrogen dengan dosis tinggi.
2. Penggunaan varietas yang rentan.
3.jarak tanam yang renggang/tidak rapat.

BIOEKOLOGI.
penggerek batang padi berkembang secara metamorfosis sempurna, dalam siklus hidupnya terdapat stadium telur, larva, pupa, dan imago. Untuk mencapai siklus satu generasi dibutuhkan waktu 6-7 minggu.

TELUR : kemampuan bertelur dapat mencapai 100-600 butir telur. Lama stadium telur antara 6- 7 hari.

LARVA : terdiri atas 5-6 instar. Stadium larva 28- 35 hari.

PUPA : panjang pupa antara 12 - 15 mm. Stadium pupa 6-13 hari.

Imago/ Ngengat : ngengat aktif pada malam hari, tertarik pada cahaya, jangkauan terbang mencapai 6-10 km, lama hidup 5 -10 hari.


PENGENDALIAN.
1. Pengaturan pola tanam
*. Dilakukan serentak, dengan selisih waktu < 2 minggu.
*. Pergiliran tanaman bukan padi.
*. Pengaturan waktu tanam.

2. Pengendalian secara fisik dan mekanik.
*. Penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen.
*. Penanganan dengan lampu perangkap.
*. Bibit yg bergejala sundep segera dibenamkan didalam tanah.

3. Pengendalian hayati.
*. Pemanfaatan musuh alami, parasitoid, predator, maupun patogen.

4. Pengendalian secara kimiawi
*. Penggunaan insektisida dapat dilakukan pada saat ditemukan kelompok telur rata-rata >1kelompok telur /3 m2 atau intensitas serangan rata-rata 6%.
*. Penggunaan insektisida butiran di persemaian dengan dosis 5 kg/ 500 m2 bila dijumpai kelompok telur. Bila terjadi eksplosi, lakukan pengendalian secara massal sesuai kebijakan dan kondisi setempat.

Minggu, 02 Juli 2017

Walang Sangit dan Pengendaliannya

Walang sangit (L.ORATORIUS L) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara mengisap cairan bulir padi sehingga bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidaj sempurna.

Walang sangit dewasa meletakan telur pada bagian atas daun tanaman padi, daun bendera lebih disukai. telur berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman, diletakan satu persatu dalam 1-2 baris sebanyak 12-16 butir. lama periode bertelur 57 hari dengan total produksi telur per induk +200 butir. lama stadia telur 7 hari, terdapat lima instar pertumbuhan nimpa yang total lamanya +19 hari. lama preoviposition +21 hari, sehingga lama satu siklus hidup hama walang sangit +46 hari.

pengendalian secara kultur teknis
1. sampai skrang beluk ada varietas yang tadan terhadap hama walang sangit, tanam serempak dalam satu hamparan sangat dianjurkan.
2. pengendalian gulma di sawah dan di sekitar pertanaman.
3. meratakan tanah sawah dan meratakan pupuk agar pertumbuhan tanaman seragam.
4. menangkap walang sangit menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan.

Pengendalian secara biologis.
- potensi agen hayati pengendali hama walang sangit masih sangat sedikit diteliti, beberapa peneliti telah dilakukan terutama pemanfaatan parasitoid dan jamur masih dalam skala rumah kasa atau semi lapang, parasitoid yang mulai diteliti adalah O.malayensis sedangkan jenis jamurnta adalah beuveria Sp dan metharizum sp. jamur ini menyerang stadia nimpa dan dewasa. berbagai jenis laba- laba dan jenis belalang famili Gryllidae dan Tetigonidae menjadi predator hama walang sangit.

Pengendalian dengan menggunakan perilaku serangga.
- walang sangit tertarik oleh senyawa (Bebauan)  yang dikandung oleh tanaman Lycopodium sp dan Ceratophylum sp. hal ini dapat dimanfaatkan untuk menarik hama walang sangit dan kemudian secara fisik dimatikan. bau bangkai binatang terutama bangkai kepiting juga efektif untuk menarik hama walang sangit.

Pengendalian Kimiawi.
- dilakukan pada padi setelah berbunga dan sampai masak susu, ambang kendali untuk walang sangit adalah 6 ekor/m2.

Senin, 19 Juni 2017

PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (HBD) PADA TANAMAN PADI

salah satu penyakit padi utama adalah Hawar Daun Bakteri (HDB) pengendalian utama HDB adalah dng varietas tahan. dilapangan ketahanan varietas unggul tahan hama/penyakit sering tidak bertahan lama karena patotipe penyakit berubah setelah beradaptasi dengan lingkungan baru. untuk itu pennggunaan varietas baru dianjurkan setelah ditanam 6 musim, terutama penggunaan pupuk N berat yg tidak di imbangi dengan pemupukan P dan K dapat memperlemah ketahanan varietas terhadap penyakit utama.

Gejala Penyakit.
       gejala penyakit berupa bercak berwarna kuning sampai putih berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. kemudian bercak berkembang hingga menutupi seluruh helai daun. pada pagi hari saat cuaca lembab, eksudat bakteri tampak dipermukaan bercak berupa cairan berwarna kuning. pada siang hari eksudat bakteri menjadi bulatan kecil berwarna kuning menempel pada permukaan daun dan mudahh jatuh oleh hembasan angin, gesekan daun atau percikan air hujan. eksudat tersebut merupakan sumber penularan yang efektif.
gejala kuning pucat umumnya terdpat pada tanaman dewaasa. daun tua berwarna hijau normal, tetapi pada daun muda menjadi pucat, klorosis, kerap kali terdapat garis berwarna hijau pucat. koloni bakteri biasanya tidak terdapat pada helai daun tetapi pada pangkal daun atau pada buku buku tanaman.
infeksi pada pembibitan menyebabkan bibit menjadi kering. bakteri menginfeksi masuk sistem vaskular tanaman padi pada saat tanam pindah atau sewaktu dicabut dari tempat pembibitan dan akar9 rusak, atau sewaktu terjadi kerusakan daun.

apabila sel bakteri masuk melalui akar dan pangkal batang, tanaman bisa bisa menunjukan gejala kresek. seluruh daun dan bagian tanaman lainnya menjadi kering. infeksi dapat terjadi mulai fase persemaian sampai awal fase pembentukan anakan.

sumber infeksi bisa dari jerami yang  terinfeksi, tunggul jerami, singgang dari tanaman yang terinfeksi, benih, dan gulma inang. sel sel bakteri membentuk butir butir embun pada waktu pagi hari dan mengeras dan melekat pada permukaan daun.

Organisme penyebab penyakit.
   penyebab penyakit hawar daun bakteri adalah Xanthomonas oryzae pv. oryzae (ishyama) Swings.


siklus penyakit dan faktor yang mempengaruhi.
    diluar musim tanam, bakteri dapqbat hidup dalam tanah selama 1-3 bulan tergantung pada kelembaban dan keasaman tanah. bakteri jg dapat bertahan dalm jerami tanaman yang terinfeksi, pd singgang, dan pada tanaman inang selain padi, sehingga penularan dapat terjadi dari musim ke musim.
faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan penyakit di lapang, misalnya kelembaban tinggi, hujan disertai angin, dan pemupukan N yang berlebihan mempermudah berkembangnya hawar daun bakteri.

PENGENDALIAN
1. penggunaan varietas tahan seperti conde dan angke adalah cara yang paling efektif.
2. sanitasi seperti membersihkan tunggul tunggul dan jerami yang terinfeksi.
3. gunakan bibit yg sehat.
4. perbaikan cara bercocok tanam :
    a. persemaian di tempat berdrainase                 baik.
    b. penggunaan N sesuai anjuran
    c.  perbaikan sistem pemberian air
    d.  jarak tanam jangan terlalu rapat
5. gunakan kompos jerami yg sudah terdekomposisi dengan sempurna
6. pengendalian secara prenventif dapat dilakukan dengan penyemprotan tanaman dengan bakterisida yang efektif.



Rabu, 14 Juni 2017

MENGENAL PENYAKIT BLAS DAN PENGENDALIANNYA

Penyakit blas dalam Bahasa Latin disebut dengan Pyricularia Grisea, adalah penyakit utama pada tanaman padi yang disebabkan oleh patogen cendawan. penyakit ini banyak ditemui di daerah lahan kering, lahan pasang surut dan rawa seperti di Sumatra selatan, kalimantan tengah, dan Kalsel. namun beberapa tahun belakangan penyakit blas sudah menyebar ke pertanaman padi sawah. serangan penyakit Blas terdapat pada semua bagian padi yaitu dari persemaian, stadia vegetatif, dan stadia generatif dengan menyerang leher dan cabang malai.
gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). tangkai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. pada gabah yang sakit terdapat bercak cekil bulat, tanaman padi yang rentan terhadap penyakit blas yaitu varietas padi Cisadane.
secara umum gejala penyakit blas digolongkan menjadi Blas daun (leaf blast) yg menyerah pada stadia vegetatif,  dan Blas leher (neck rot) yg menyerang pada fase generatif. gejala awal dimulai dari bercak kecil berwarna coklat keputihan. gejala akan berkembang cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan varietas peka. biasanya tepi bercak berwarna coklat. bercak pada daun memiliki ciri khas berbentuk kumparan atau elips lebah di tengah dan meruncing di kedua ujungnya atau berbentuk belah ketupat. bagian tengah bercak berwarna kelabu atau keputihan, dan bagian tepi biasanya coklat atau merah kecoklatan. brntuk dan warna bercak tergantung pada kondisi lingkungan, umur bercak dan kepekaan tanaman padi.
bercak yang parah dapat menyebabkan kematian tanaman, bibit yang terinfeksi berat atau tanaman pada stadia pertumbuhan dapat mengering dan mati, intensitas serangan bercak yang tinggi dapat mengakibatkan kekerdilan. seranfan pada buku, pangkal pelepah daun menjadi busuk dan berubah menjadi kehitam hitaman dan mudah patah. bercak jg bisa terjadi pada malai. gejala pada leher malai ditunjukan dengan warna coklat keabuan sampai hitam pada pangkal leher malai. infeksi ini dapat mengakibatkan leher malai mudah patah sehingga menggangu pengisian malai/hampa.
tingkat keparahan penyakit blas sangat tergantung pada kelebihan nitrogen dan kekurangan air akan menambah kerentanan tanaman. makin tinggi puphk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi.
cara pengendalian :
1. pupuk berimbang.
untuk daerah endemis dianjurkan tidak memakai pupuk N lebih dari 90 Kg per ha.
2. penanaman varietas tahan.
3. pergiliran varietas tahan.
varietas yang ditanam secara luas dan terus menerus hanya mampu bertahan selama beberapa musim terhadap penyakit blas.
4. tidak menggunakan benih dari daerah endemis blas.
5. waktu tanam.
hindari waktu tanam dimana pada saat keluar malai dan awal berbunga terdapat banyak embun. semakin banyak curah hujan, kelembapan, dan kecepatan angin akan semakin tinggi pula intensitas blas.sedanhkan suhu berkorelasi negatif. apabila penanaman dilakukan pada awal musim hujan dan pada saat keluar malai/ awal bunga ditemukan gejala serangan blas, maka perlu penyemprotan fungsida.
6. perlakuan benih dengan fungisida.
7. membakar jerami dari pertanaman yang sakit.
8. jika perlu tanaman dapat diaplikasi dengan fungisida berbahan aktif : mrtil tiofanat, heksakonazol, trisiklazol, kasugamisin hidroklorida + tembaga oksiklorida, mankozeb + karbendazim, tembaga oksida, azoksistrobin + difenokozanol, benomil, propikonazol + trisiklazol, isoprotiolan, dll.